BB - Mateng., Posko Siaga Satuan Tugas Penanganan Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Mamuju Tengah terus bergerak aktif merespons dampak fenomena El Nino yang melanda wilayah tersebut. Pelaksana Harian (Plh) Kepala BPBD Mamuju Tengah, Sigit Dwi Hastono, menyampaikan bahwa meskipun penetapan status siaga darurat baru berlaku sejak 1 Agustus 2026, tim gabungan telah beraktivitas selama sekitar 15 hari dalam berbagai upaya penanganan bencana.
"Sudah 11 hari sejak penetapan status siaga darurat, namun aktivitas penanganan mulai berjalan sekitar 15 hari lalu, mencakup distribusi air bersih, penanggulangan kebakaran, hingga rapat koordinasi lintas sektor," ungkap Sigit.
Lima Fokus Deteksi Dini dan Penanganan. Satgas menetapkan lima bidang pengawasan dan penanganan utama, Krisis air bersih distribusi kebutuhan air bagi warga, Ancaman kebakaran rumah dan lahan kesiapan regu pemadam, Kekeringan lahan pertanian pangan pemetaan lebih dari 560 hektare lahan terancam, Serangan hama pada perkebunan sawit khususnya ulat api yang berkembang pesat di musim kemarau dan dapat menurunkan produktivitas drastis bahkan berhenti produksi dalam 6 bulan ke depan, Peningkatan penyakit menular terutama ISPA, asma, dan gangguan pernapasan akibat debu, asap, cuaca panas, serta kualitas air. Dinas Kesehatan telah menyiapkan seluruh puskesmas untuk pemantauan dan penanganan.
Distribusi air bersih telah menjangkau 29 desa terdampak, namun baru mampu melayani sekitar 51 persen dari total kebutuhan. Keterbatasan personil, kendaraan tangki, tandon air, serta sumber air baku menjadi kendala utama di tengah tingginya permintaan masyarakat.
Regu pemadam disiapkan dari jajaran Satpol PP dengan 2 unit kendaraan pemadam, didukung Manggala Agni KPH Mamuju selama tiga bulan ke depan. Satgas distribusi air juga bersiap membantu pasokan air apabila terjadi kebakaran rumah maupun lahan.
Lebih dari 560 hektare lahan pertanian pangan terancam kekeringan. Satgas berkoordinasi dengan BWS Wilayah V Sulawesi Barat untuk langkah teknis mitigasi, mengingat keterbatasan anggaran dan sarana seperti pompa air serta jaringan pipanisasi yang belum memadai. Sigit menegaskan, antisipasi ini penting untuk mencegah gagal panen yang dapat mengganggu pendapatan masyarakat dan perekonomian daerah.
"Kita berharap kerja sama lintas sektor terus diperkuat agar dampak El Nino dapat diminimalisir, dan masyarakat tetap terlindungi dari ancaman kekeringan, kebakaran, maupun wabah penyakit," pungkas Sigit.(*34)





